Syaraf Terjepit (HNP) Sembuh Tanpa Operasi

HNP atau Hernia Nukleus Pulposus adalah kondisi ketika bantalan atau cakram yang terdapat di antara tulang (vertebrata) belakang keluar dari posisi awal dan menjepit syaraf yang ada di belakang. Kondisi inilah yang sering di sebut dengan istilah syaraf terjepit.

Umumnya  Hernia Nukleus Pulposus banyak terjadi di sekitar bagian vertebra lumbal 4 hingga lumbal 5 (L4-L5) dan S-1 namun ada juga beberapa orang menderita HNP di sekitar lumbal 2 hingga lumbal 3 (L2-L3) dan lain sebagainya.

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) Saraf Terjepit

Gejala paling umum penyebab Hernia Nukleus Pulposus (HNP) antara lain :
  • Nyeri, biasanya nyeri tersebut muncul pada saat berubah posisi dari duduk ke posisi berdiri ataupun perpindahan dari posisi tidur ke posisi duduk. Nyeri tersebut akan hilang ketika posisi sudah tegak berdiri.
  • Nyeri yang dialami akan menjalar ke bagian bokong hingga lutut (lutut dan kaki terasa seperti kebas-kebas dan kesemutan)
  • Pada beberapa kasus penderita Hernia Nukleus Pulposus (HNP) mengalami gangguan pencernaan dan buang air kecil.

Pengobatan yang sering dilakukan untuk mengatasi HNP sesuai rekomendasi medis umumnya yaitu :
  • Istirahat total selama 3 hingga 6 minggu
  • Pemberian obat anti nyeri dan obat pelumas otot
  • Fisiotherapi
  • Memasang papan di bawah alas kasur.
  • Terapi renang
  • Tindakan operasi untuk mengangkat bantalan yang terjepit.

Saya tidak akan membahasnya lebih detail mengenai masalah di atas. Sudah banyak artikel yang membahas mengenai Hernia Nukleus Pulposus tersebut. Saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa syaraf terjepit atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP) tersebut bisa sembuh tanpa obat dan tanpa operasi sebagaimana yang telah saya alami.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Nama saya Riko dan saya adalah salah satu penderita Hernia Nukleus Pulposus (HNP) di bagian Lumbal 4, Lumbal 5 hingga pinggul S-1.

Hampir 1 tahun belakangan ini saya merasakan nyeri yang sangat hebat di bagian tulang belakang hingga menjalar ke bokong namun rasa nyeri tersebut kini berangsur-angsur hilang.

Saya tidak tahu jika saya terkena HNP selama beberapa tahun belakangan ini. Saya sering merasakan nyeri di bagian tulang belakang dan pinggang ketika berpindah posisi dari duduk atau pun jongkok ke posisi berdiri, bahkan rasa nyeri tersebut kadang menjalar hingga ke bawah lutut (terasa kebas). Awalnya nyeri tersebut tidak terlalu menyakitkan dan saya anggap biasa hingga beberapa tahun kemudian rasa nyeri tersebut semakin menjadi-jadi dan sudah sangat menggangu.

Pernah suatu ketika saya terbangun dari tidur dan merasakan nyeri yang luar biasa di bagian leher dan punggung. Saat itu saya hanya berpikir kemungkinan gejala nyeri yang muncul tersebut diakibatkan karena posisi tidur saya yang salah, ataupun akibat kelelahan. 

Rasa nyeri dan pegal-pegal tersebut saya biarkan begitu saja karena saya berpikir rasa nyeri dan pegal-pegal itu akan hilang dalam beberapa jam kemudian, namun kenyataannya rasa nyeri tersebut baru hilang beberapa hari kemudian. Kejadian tersebut terus terjadi dan hampir setiap bulan saya pasti mengalami nyeri di leher ketika terbangun dari tidur maupun selesai berkendaraan.

Selama beberapa tahun pengobatan yang saya jalani untuk menghilangkan rasa nyeri maupun pegal-pegal di leher, punggung, pinggang, dan kaki hanya melalui pijat tradisional dan pijat refleksi.

Terkadang saat di pijat atau di urut, bagian tulang belakang saya di tekan keras dan bahkan pernah di injak dengan harapan kondisi badan saya yang sakit cepat pulih. Hal tersebut sering saya lakukan selama hampir 2 tahun karena saat itu saya belum tahu bahwa saya terkena Hernia Nukleus Pulposus (HNP).

Akibat seringnya melakukan pemijatan, bukan kesembuhan saya dapat, justru disitulah awal bencananya.

Rasa nyeri di bagian leher, tulang belakang, bokong, dan pinggang saya semakin sering terjadi. Bahkan pernah di suatu waktu leher saya selama beberapa hari tidak bisa digerakkan akibat nyeri yang luar biasa di bagian leher dan menjalar ke seluruh punggung.

Rasa nyeri yang luar biasa juga muncul ketika saya berpindah posisi dari duduk ke posisi berdiri, termasuk berpindah posisi dari kursi kendaraan ke posisi berdiri, namun rasa nyeri tersebut hanya berlangsung beberapa menit dan kemudian hilang ketika sudah dalam posisi berdiri. Sebelumnya tidak pernah terjadi hal semacam itu dan justru rasa nyeri yang luar biasa menyakitkan tersebut baru muncul pasca pemijatan yang saya lakukan sebelumnya.

Karena sudah cukup menggangu aktivitas, saya pun melakukan pemeriksaan ke dokter syaraf di salah satu rumah sakit yang ada di kota Cilegon Banten. Ada 2 dokter spesialis syaraf yang saya temui saat itu dan ada 2 metode pemeriksaan yang saya jalani untuk memastikan jenis penyakit yang saya alami.

Metode pemeriksaan pertama yaitu rontgen. Sebenarnya dari hasil rontgen sudah bisa diketahui ada penyempitan di area Lumbal 4 dan Lumbal 5 (HNP L4-L5) saya. Menurut dokter saraf saat itu gejala nyeri yang timbul selama ini diakibatkan oleh penyempitan saraf atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP) di area Lumbal 4-5 (L4-L5) tersebut.

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang terkena Hernia Nukleus Pulposus (HNP) misalnya pengapuran tulang/osteoporosis (padahal umur saya baru 34 tahun), posisi duduk yang salah selama beraktivitas, terjatuh dengan posisi terduduk, terlalu sering mengangkat beban berat, dan lain sebagainya. 

Memang beberapa tahun sebelumnya saya pernah jatuh dengan posisi terduduk sebanyak 2 kali (persisnya kapan saya lupa), selain itu posisi duduk saya sering salah selama ini. Apakah itu yang menyebabkan saya menderita HNP?? Entahlah....

Dokter tersebut juga menjelaskan bahwa penderita HNP sebaiknya menghindari proses pemijatan khususnya pemijatan di bagian tulang belakang hingga tulang ekor, dan dilarang keras untuk menekan tulang belakang apapun alasannya karena selain berisiko meningkatkan bantalan yang keluar dari posisi nya, tindakan tersebut juga sangat berbahaya.

Di akhir pemeriksaan saya hanya diberikan beberapa obat peregang otot dan pereda nyeri. Fungsi utama obat tersebut sebagai pengurang rasa sakit. Selama beberapa waktu obat tersebut cukup membantu. Saya pun lebih nyaman ketika berpindah posisi dari duduk ke posisi berdiri. Namun rasa sakit di bagian belakang dan pinggang tersebut muncul kembali ketika reaksi obat mulai hilang dan hal itu terus terjadi hingga obat yang diberikan habis.

Beberapa bulan kemudian karena tidak puas dengan hasil pemeriksaan pertama saya lalu pergi ke dokter spesialis syaraf yang lain masih di rumah sakit yang sama dan menceritakan kondisi kesehatan yang saya alami saat itu, saya pun minta agar dilakukan MRI.

Sebagaimana penjelasan yang dikutip dari aladokter.com MRI (Magnetic Resonance Imaging) atau pencitraan resonansi magnetik adalah pemeriksaan dengan memanfaatkan medan magnet dan energi gelombang radio untuk menampilkan gambar dan struktur organ dalam tubuh, dimana MRI ini bisa memberikan gambaran struktur tubuh secara lebih detail yang tidak tidak bisa di dapat pada tes lain seperti rontgen, USG, ataupun CT scan.

Dari sisi biaya, tes dengan MRI jauh lebih mahal jika dibandingkan tes lainnya seperti rontgen, USG, dan CT scan, namun hasil pemeriksaan penggunaan MRI jauh lebih detail jika dibanding dengan ke tiga tes tersebut.

Sama seperti pemeriksaan sebelumnya, hasil MRI tersebut juga menunjukkan bahwa saya positif terkena Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yaitu adanya penyempitan saraf di lumbal 4 dan lumbal 5 (L4-L5).

Ketika itu HNP L4-L5 yang saya alami termasuk kategori 1 (grade 1).

Di akhir pemeriksaan saya hanya di beri beberapa obat pereda nyeri dan peregang otot (sama seperti sebelumnya) sambil memberikan catatan bahwa saya diharuskan berenang dan menghindari olahraga yang berisiko memperparah saraf tulang belakang seperti jogging dan jumping.

Fisiotherapi pun sudah saya jalani selama beberapa bulan khususnya ketika leher saya tidak bisa digerakkan selama beberapa hari akibat salah tidur (atau mungkin akibat pijat sebelumnya dan karena gejala HNP tadi). Durasi fisiotherapi yang saya jalani saat itu hanya seminggu sekali sebagaimana rujukan dokter rehab medis.

Selain fisiotherapi saya juga menjalani pengobatan alternatif dalam hal ini totok saraf selama 2 bulan di daerah Merak sebagaimana rekomendasi salah satu tetangga bahwa di tempat tersebut bisa menyembuhkan saraf terjepit atau Hernia Nukleus Pulposus.

Semua proses baik fisiotherapi maupun totok saraf tersebut saya jalani secara bersamaan selama beberapa bulan dengan harapan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang saya alami bisa segera sembuh tanpa obat dan tanpa operasi.

Beberapa bulan kemudian saya putuskan untuk menghentikan semua proses terapi baik fisiotherapi dan totok saraf karena rasa nyeri di pinggang tersebut tidak berkurang sama sekali dan bahkan semakin meningkat seiring habisnya obat yang diberikan.

Saya pun memutuskan untuk kembali ke dokter spesialis namun dengan dokter spesialis yang berbeda.

Kali ini saya pergi ke dokter spesialis bedah saraf masih di rumah sakit yang sama dengan dokter-dokter sebelumnya. Pada kunjungan pertama dokter tersebut belum bisa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab meningkatnya rasa nyeri di tulang belakang saya, beliau menyarankan untuk dilakukan MRI sekali lagi untuk melihat apakah ada perubahan di area lumbal saya (MRI sebelumnya sudah setahun berlalu).

Seminggu kemudian saya datang dengan membawa hasil MRI terbaru dan benar saja kali ini saraf yang terjepit di area tulang belakang saya bertambah dari yang sebelumnya hanya HNP di lumbal 4 dan lumbal 5 (L4-L5), menjadi HNP di L4, L5 dan S1 (bagian pinggul).

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) tersebut masuk kategori grade 2 namun masih dalam posisi aman dan tidak membahayakan sehingga tidak perlu dilakukan penyuntikan atau pun operasi.

Itu sebabnya mengapa akhir-akhir ini pinggang dan pinggul saya terasa semakin sakit ketika berpindah posisi dari jongkok, duduk bersila, duduk di kursi, maupun duduk setelah menyetir, ke posisi berdiri.

Sang dokter menjelaskan bahwa Hernia Nukleus Pulposus (HNP) tidak bisa sembuh secara total. Penanganan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) melalui tindakan operasi pun tidak bisa menjamin kesembuhan 100 %. Begitu pula melalui metode suntikan. Suntikan yang diberikan hanya untuk mengurangi rasa nyeri dan bersifat sementara. Reaksi suntikan hanya bertahan selama 6 bulan setelah itu rasa nyeri akan muncul kembali jika reaksi obatnya hilang. Semua tindakan penanganan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) di atas baik suntikan maupun operasi merupakan pilihan terakhir yang di ambil jika HNP yang diderita seseorang sudah sangat parah.

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang saya derita masih kategori grade 2 dan tidak membahayakan. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya. Rasa nyeri di pinggang hanya muncul ketika saya berpindah posisi saja sehingga tidak perlu dilakukan penanganan lanjutan, demikian penjelasan dokter bedah saraf saat itu.

Di akhir pemeriksaan, pak dokter pun hanya memberikan beberapa obat pereda nyeri yang harus saya minum di saat-saat tertentu saja. Sang dokter juga memberikan beberapa catatan hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan dan yang harus dijalani saya jalani untuk menjaga HNP saya agar tidak bertambah parah, seperti: menggunakan korset saat beraktivitas, tidur beralaskan papan yang ditempatkan di bawah kasur, dilarang mengangkat beban berat, termasuk dilarang mengendong anak dan diharuskan berenang minimal 2 kali seminggu, dan melakukan olah raga ringan seperti senam peregangan otot.

Dua hal terakhir tersebut tidak saya lakukan. Alasannya pertama saya tidak bisa berenang dan kedua orang tua mana pun akan melakukan hal yang sama ketika anaknya merengek minta gendong (menggendong sang anak).

Rasa nyeri di pinggang saya semakin lama semakin sakit, walau pun sudah minum obat pereda nyeri namun rasa sakit tersebut semakin menyakitkan. Putus asa saya pun memutuskan untuk tidak lagi minum obat pereda nyeri tersebut dan mencari alternatif lain karena saya tetap yakin bahwa Hernia Nukleus Pulposus (HNP) saya derita ini bisa sembuh tanpa obat dan tanpa operasi, sekalipun dari sisi medis hal tersebut amat mustahil jika tidak melalui operasi.

Syaraf Kejepit (HNP) Sembuh Tanpa Obat dan Tanpa Operasi

Saraf Terjepit Metode Akupuntur

Disinilah pencarian pengobatan alternatif tersebut saya mulai. Pertama pencarian saya lakukan di google. Ada begitu banyak orang yang menawarkan jasa pengobatan alternatif untuk saraf kejepit (HNP) dengan berbagai metode pengobatan di google dan hampir rata-rata mengklaim mampu menyembuhkan saraf kejepit (HNP) tanpa obat dan tanpa operasi.

Saya pun menfilter pencarian tersebut, dengan memperkecil lokasi pencarian yaitu Cilegon, Serang, dan Jakarta sekitarnya. Dengan memperkecil area pencarian tentunya hal itu akan lebih memudahkan saya dalam memilih tempat, lalu saya pelajari satu persatu pengobatan alternatif saraf terjepit atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang ada tersebut mulai dari lokasi, metode pengobatan, biaya, hingga testimoni yang pernah berobat di sana.

Dari sekian banyak informasi yang ada, ada satu pengobatan alternatif yang menarik perhatian saya. Setelah dipelajari secara detail, saya pun menghubungi yang bersangkutan untuk menanyakan informasi lebih lanjut termasuk biaya dan metode pengobatan yang ditawarkan. Intinya yang bersangkutan mengklaim mampu menyembuhkan saraf terjepit atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP) yang saya alami tanpa obat dan tanpa operasi

Sekilas saya masih ragu akan klaim tersebut sambil bertanya dalam hati apa benar dia mampu menyembuhkan saraf terjepit (HNP) tanpa obat dan tanpa operasi hanya dengan akupuntur?

Namun karena rasa sakit yang tidak bisa di toleransi lagi dan sudah capek jika terus minum obat, dan setelah menyiapkan sejumlah dana yang dibutuhkan saya pun memutuskan untuk mengambil resiko itu sambil berdoa agar Hernia Nukleus Pulposus (HNP) atau saraf terjepit saya ini bisa sembuh tanpa obat dan tanpa operasi.
Saya pun berangkat bersama istri dan anak ke lokasi tempat pengobatan alternatif tersebut. Ketika tiba di lokasi, saya menemukan beberapa orang yang mempunyai keluhan yang sama seperti saya (sesama penderita saraf terjepit / Hernia Nukleus Pulposus). Selain penderita saraf terjepit / HNP, terdapat juga beberapa pasien penderita stroke sedang menunggu giliran. Kebanyakan dari mereka adalah pasien baru, namun ada juga pasien yang berobat lanjutan (umumnya pengobatan yang ke dua kalinya). 

Proses pengobatannya Hernia Nukleus Pulposus (HNP) tersebut berlangsung cepat, rata-rata setiap pasien hanya membutuhkan 10-15 menit tergantung tingkat keparahannya.

Sejam kemudian giliran saya pun tiba, saya masuk dan menjelaskan semua keluhan Hernia Nukleus Pulposus (HNP) saya. Sepertinya beliau sudah paham apa yang saya alami, kemudian beliau meminta saya untuk menunjukkan titik-titik saraf mana saja yang terasa amat sakit agar bisa dilakukan tindakan akupuntur. Setelah menandai sejumlah titik saraf yang sakit beliau pun memasukkan sejumlah  jarum ke semua titik sakit yang ditandai tadi secara perlahan-lahan.
Muncul rasa sakit yang luar biasa di punggung saya selama beberapa menit mungkin itu karena reaksi dari jarum tadi. Selang 10 menit jarum-jarum tersebut di lepas dari punggung saya dan sensasi sakit yang tadi saya rasakan perlahan-lahan hilang.

Setelah beberapa menit kemudian saya di minta melakukan beberapa gerakan yang sering saya keluhan selama ini untuk memastikan apakah reaksi akupuntur tadi telah bekerja sebagaimana yang diharapkan.

Amazing...rasa nyeri di pinggang saya perlahan-lahan mulai hilang. Beliau mengingatkan agar tidak melakukan gerakan yang berlebihan dulu karena reaksi akupuntur tersebut masih bekerja selama beberapa hari. Dibutuhkan waktu hingga 6 hari untuk memastikan apakah rasa nyeri di pinggang saya benar-benar hilang (HNP sembuh total). Jika rasa nyeri tersebut masih ada maka saya di minta datang kembali untuk melanjutkan pengobatan kedua.

Selama 3 hari itu saya mencoba melakukan beberapa gerakan yang selama ini saya keluhkan diantaranya duduk bersila, jongkok, kemudian berdiri. Memang saat itu saya masih merasakan nyeri di sekitar pinggang, tetapi titik sakitnya telah berpindah dan menjalar ke bagian perut, justru titik sakit yang awal yang saya keluhkan selama ini (sebelum pengobatan) sudah tidak terasa lagi. Saya konsultasikan hal tersebut, dan beliau menjelaskan bahwa itu normal akibat reaksi dari saraf yang sedang disembuhkan.

Memasuki hari ke 6 sudah ada perubahan yang saya alami di tulang belakang saya. Rasa nyeri saya mulai berkurang, namun saya tetap memutuskan untuk datang melanjutkan pengobatan ke 2 dengan metode yang sama.

Singkat cerita, setelah dua kali pengobatan akupuntur tersebut, kini punggung, pinggang, dan tulang belakang saya terasa jauh lebih enak jika di bandingkan sebelum pengobatan. Kini saya tidak merasakan nyeri lagi ketika harus berpindah posisi baik dari posisi duduk atau jongkok ke posisi berdiri. Tulang belakang saya pun kini jauh lebih nyaman.

Namun walaupun demikian saya tetap harus menjaga tulang belakang saya salah satunya menghindari gerakan-gerakan yang bisa membuat tulang belakang saya cedera, tujuannya agar saraf terjepit / Hernia Nukleus Pulposus (HNP) tersebut tidak kambuh lagi suatu hari nanti.

Terima kasih pak sudah menyembuhkan syaraf terjepit (Hernia Nukleus Pulposus) saya tanpa obat dan tanpa operasi.

0 Response to "Syaraf Terjepit (HNP) Sembuh Tanpa Operasi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel